Sejarah Singkat

Sejarah Abata Indonesia - High Readability

Sejarah Abata Indonesia

Menghadirkan Harapan Lewat Pendidikan Tunarungu Terpadu

Abata Indonesia lahir bukan sekadar dari sebuah gagasan pendidikan, tetapi dari kegelisahan seorang ayah yang diamanahi Allah seorang anak tunarungu/tuli. Pada tahun 2017, Mukhlisin Nuryanta memulai sebuah perjalanan yang berangkat dari pertanyaan-pertanyaan paling mendasar:

"Bagaimana mengenalkan anak tunarungu kepada Rabb-nya?" "Bagaimana mengajarkan Al-Qur’an kepada anak yang tidak dapat mendengar?" "Dan di manakah tempat belajar yang benar-benar bermutu bagi anak tunarungu?"

Kegelisahan itu menjelma menjadi ikhtiar nyata. Dari sebuah rumah kontrakan sederhana di Argodewi, Mungseng, Temanggung, Mukhlisin bersama istrinya – Annisha Hadi, merintis sebuah sanggar belajar kecil bernama “Rumah Abata – Sanggar Belajar Tunarungu.”

1. Komunikasi

Fondasi utama agar anak mampu berinteraksi dengan dunia.

2. Diniyah & Akademik

Agar anak mengenal Allah, Al-Qur’an, dan memiliki kecakapan intelektual.

3. Vokasi

Pelatihan keterampilan untuk kemandirian masa depan anak tuli.

Tahun 2018 menjadi tonggak penting. Allah SWT menghadirkan dukungan tidak terduga melalui amanah wakaf tanah di Manding, Temanggung. Pembangunan dimulai pada tahun 2019, dan pada awal tahun 2020, Abata resmi menempati kompleks baru sebagai Pesantren Abata.

2021 - 2023
Penguatan tata kelola dengan izin operasional resmi dari Kementerian Agama, Dinas Pendidikan (PKBM), dan Dinas Sosial (LKSA).
Hari Ini
Abata Indonesia terus bergerak menjadi Resource Center Pendidikan Tunarungu Nasional—sebuah pusat rujukan dan inovasi pendidikan tunarungu di Indonesia.
whatsapp kami
hubungi kami